Kontribusi Ilmuwan Muslim di Bidang Matematika

Kontribusi Ilmuwan Muslim di Bidang Matematika
Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, MA
                                                                                   

Dalam sejarah peradaban Islam, sains menempati posisi yang amat penting. Sains-sains yang dihasilkan di peradaban Islam merupakan hasil olah pikir ilmuwan Muslim sepanjang sejarah. Melalui hasil olah inilah pada akhirnya tergali nalar-nalar saintifik ilmuwan Muslim. Salah satu disiplin keilmuan sains yang memainkan peranan penting di peradaban Islam adalah disiplin ilmu Matematika. Disipli ilmu ini mempunyai posisi unik dan penting dalam kerangka berfikir manusia.
            Menurut Seyyed Hosein Nasr, matematika memiliki posisi istimewa dalam tradisi Islam. Salah satu posisi istimewa itu tampak dibuktikan dari tipe arsitektur bangunan-bangunan mulai dari istana, masjid, perpustakaan, observatorium, rumah sakit dan lain-lain. Kecintaan kepada matematika juga berhubungan langsung dengan esensi ajaran Islam, yaitu terkait penegasan tauhid (mengesakan Tuhan). Seperti dimaklumi, Tuhan bersifat tunggal, oleh karena itu bilangan satu merupakan seri bilangan yang paling masuk akal.
Matematika sebagai hasil pemikiran dan penalaran manusia bertumpu pada logika dan daya cipta. Dasar utama matematika adalah pengenalan dan pemahaman pola-pola keteraturan dan hubungan-hubungan antara berbagai sifat melalui penyederhanaan permasalahan menjadi intinya yang paling dasar.
Para imuwan Muslim juga tampak begitu memuliakan ilmu matematika, misalnya Ikhwan al-Shafa  menyatakan bahwa sesungguhnya bentuk bilangan dalam jiwa manusia berkorespondensi dengan bentuk maujud dalam materi. Bilangan adalah contoh dari dunia yang lebih tinggi. Melalui pengetahuan tentangnya, murid kearifan secara bertahap mengenal sains matematika lainnya, sain alam, dan metafisika. Ilmu bilangan adalah akar dari ilmu-ilmu, dasar kebijaksanaan, awal ilmu-ilmu ketuhanan, demikian menurut Ikhwan al-Shafa.
Salah satu tokoh besar matematika dalam Islam adalah Al-Khawarizmi (nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi), lahir di Bukhara. Al-Khawarizmi adalah seorang tokoh Islam yang berpengetahuan luas, memiliki wawasan dalam bidang logika, aritmatika, geometri, musik, ilmu hitung, dan lain-lain. Mungkin kita sudah sering mendengar istilah algoritma, Dalam kamus besar bahasa Indonesia algoritma berarti prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas. Sebenarnya nama algoritma diambil dari nama julukan penemunya yaitu al-Khawarizmi. Karya terpopulernya adalah Aljabar, yang mendapat perhatian banyak ilmuwan yang datang sesudahnya. Bahkan di Eropa karyanya ini menjadi literatur wajib untuk dipelajari, bahkan karyanya ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa, selain sangat banyak kajian dan revisi terhadapanya.
Di barat ia lebih dikenal dengan nama Algoarisme atau Algorisme. Dalam bukunya al-Khawarizmi memperkenalkan kepada dunia ilmu pengetahuan angka nol yang dalam bahasa arab disebut sifr. Sebelum al-Khawarizmi memperkenalkan angka nol, para ilmuwan mempergunakan abakus, semacam daftar yang menunjukkan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya, untuk menjaga agar setiap angka tidak saling tertukar dari tempat yang telah ditentukan dalam hitungan. Akan tetapi, hitungan seperti ini tidak mendapat sambutan dari kalangan ilmuwan Barat ketika itu dan mereka lebih tertarik untuk mempergunakan raqam al-binji (daftar angka arab, termasuk angka nol), hasil penemuan al-khawarizmi. Dengan demikian angka nol baru dikenal dan dipergunakan orang Barat sekitar 250 tahun setelah ditemukan al-Khawarizmi.
Tokoh berikutnya adalahAl-Battani, seorang ahli astronomi dan matematikawan Arab-Muslim. Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Jabir bin Sinan al-Harrany ash-Shaby. Ia lahir di lahir di Harran. Salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Dalam bidang matematika, Al Batani banyak berperan dalam hal trigonometri. Istilah, pengertian, dan sejumlah rumus sinus dan kotangen berhasil diuraikannya dengan sempurna, lengkap dengan tabel-tabelnya dalam bentuk derajat-derajat sudut. Persamaan trigonometri yang pecahkan adalah tentang sin x = a cos x . Ia juga menggunakan gagasan Al-Marwazi tentang tangen dalam mengembangkan persamaan-persamaan untuk menghitung tangen, kotangen dan menyusun tabel perhitungan tangen.
Tokoh selanjutnya adalah Al-Qalshadi yang mengembangkan matematika sungguh sangat tak ternilai. Ia ahli matematika Muslim abad ke-15, kalau tanpa dia boleh jadi manusia tidak mengenai simbol-simbol ilmu hitung. Sejarah mencatat Alqasadi merupakan salah seorang matematikawan  Muslim yang berjasa mengenalkan simbol-simbol Aljabar. Simbol-simbol tersebut pertama kali dikembangkan pada abad 14 oleh Ibnu al-Banna kemudian pada abad 15 dikembangkan oleh al-Qalashadi, al-Qalasadi memperkenalkan simbol-simbol matematika dengan menggunakan karakter dari alphabet Arab. Ia menggunakan wa yang berarti “dan” untuk penambahan (+), untuk pngurangan (-), al-Qalasadi menggunakan illa berarti “kurang”. Sedangkan untuk perkalian (x), ia menggunakan fi yang berarti “kali”. Simbol ‘ala yang berarti ”bagi” digunakan untuk pembagian (/).
Demikian sekilas ulasan mengenai matematika dalam Islam berikut sekelumit tokoh-tokohnya. Sejatinya masih ada banyak lagi informasi tentang disiplin ilmu ini yang belum diungkap, demikian lagi tokoh-tokohnya yang tersebar di penjuru dunia baik di Timur maupun di Barat (Spanyol). Mudah-mudahan penggambaran singkat ini mampu memberi wawasan tentang sejarah dan peradaban Islam di bidang matematika. ||Penulis Kepala Observatorium Ilmu Falak UMSU. (Telah Terbit di Harian Medan Pos, 2015).



Share this post :
 
Copyright © 2015. OIFUMSU - All Rights Reserved