Ibn al-Majdi (w. 850/1447) Astronom Muslim Cemerlang Zaman Tengah

Ibn al-Majdi (w. 850/1447)
Astronom Muslim Cemerlang Zaman Tengah


Oleh: Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, MA


          
  Nama lengkap Ibn al-Majdi adalah Syihâb ad-Din Abu al-‘Abbâs Ahmad bin Rajab bin Thaibughâ al-Majdi al-‘Allâ’i bin ‘Abd Allâh al-Qâhiri as-Syâfi’i. Ia lebih dikenal dengan Ibn al-Majdi nisbah kepada kakeknya. Ibn al-Majdi dilahirkan di kota Kairo pada bulan Dzulhijah tahun 767/1366. Ia dikenal sangat rajin dalam menuntut ilmu. Di kota ini juga Ibn al-Majdi wafat yaitu pada malam Sabtu, 11 Dzulhijah 850/1447, ia hidup hingga mencapai usia 84 tahun.
            Satu fakta nyata bahwa Ibn al-Majdi memiliki pengetahuan dan perhatian luar biasa dalam berbagai ilmu. Ia hidup pada masa puncak berkembang dan bergejolaknya ilmu pengetahuan di dunia Arab (abad 8-9/14-15). Pengetahuan luar biasa Ibn al-Majdi ini dapat dibuktikan melalui karya-karya yang ia tinggalkan meski sebagiannya hilang. As-Suyuthi mengatakan, Ibn al-Majdi dengan kecerdasannya begitu unggul dalam berbagai cabang ilmu yang tidak banyak ulama yang mampu mengimbanginya pada masanya. Ibn al-Majdi adalah seorang pemuka dalam berbagai bidang perhitungan (hisab), geometri (handasah), astronomi (hai’ah, falak), faraid, dan ilmu waktu.
            Ibn al-Majdi juga menguasai secara baik berbagai pembahasan dalam “ad-Durr al-Mantsur fi al-‘Amal bi Rub’ ad-Dustur”, buku astronomi karya Sibth al-Mardini, dengan merinci garis-garis dan model, skala, geometri, dan lain-lain. Ini terlihat dalam karyanya yang khusus mengomentari karya Sibth al-Mardini ini yang berjudul “Irsyâd as-Sâ’il fi Ushul al-Masâ’il”. Dalam karyanya ini juga Ibn al-Majdi meletakkan pembahasan penting tentang metode mengetahui kedalaman sebuah sumur, luas sungai, jarak antara dua gunung dan mana diantara keduanya yang paling dekat terhadap orang yang sedang berjalan.
Dimasanya, Ibn al-Majdi dikenal memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai cabang ilmu seperti astronomi, matematika, trigonometri, perhitungan (aritmetika), geometri, tabel matematika, penanggalan, ilmu waris, fikih, Nahwu, dan bahasa Arab.
            Dari berbagai cabang ilmu yang dikuasai Ibn al-Majdi, cabang ilmu astronomi adalah bidang yang paling ia tekuni. Hal ini dapat dilihat dari karya-karya yang ia lahirkan. Dalam bidang astronomi ini, Ibn al-Majdi sangat mahir diantaranya dalam mengetahui keadaan satu planet tertentu pada suatu waktu, mengetahui bayang yang jatuh pada bidang datar terhadap ufuk dalam suatu waktu tertentu, bayang yang jatuh pada bidang datar terhadap “mu’addal an-nahâr” dan zenit (samt)-nya, menentukan berbagai arah melalui ketinggian kutub “al-mu’addal an-nahâr”, menentukan arah dari berbagai tempat bidang datar maupun bidang miring, dan lain-lain. Ibn al-Majdi juga piawai dalam menentukan ketinggian Matahari yang sinarnya tidak jatuh (sampai) pada suatu tempat.
            Melalui informasi berbagai literatur klasik maupun kontemporer, karya-karya Ibn al-Majdi yang mayoritasnya dalam bidang astronomi saat ini tersebar di penjuru dunia, antara lain di Mesir, Syria, Irak, Belanda, Inggris, Prancis, dan lain-lain. Diantara karya-karya Ibn al-Majdi adalah sebagai berikut: Irsyâd al-Hâ’ir ilâ Takhthith Fadhl ad-Dâ’ir, Risâlah fi al-Mizwalah al-Mu’iddah li Ma’rifah al-Auqât, Khulashah al-Aqwâl fi Ma’rifah al-Waqt wa Ru’yah al-Hilâl, al-Manhal al-‘Adzb az-Zalâl fi Ma’rifah Hisâb al-Hilâl, dan Ghunyah al-Fahîm wa at-Taharîq Ilâ Hall at-Taqwîm.
            Buku yang terakhir ini adalah yang secara akademis berhasil diangkat kepermukaan dalam tahkik dan dirasah pada tahun 2009. Ghunyah al-Fahim wa at-Tahariq Ilâ Hall at-Taqwim karya Ibn al-Majdi ini berisi pembahasan ragam dan corak penanggalan (taqwim), yang terdiri dari tiga bab pembahasan. Bab pertama, tentang penanggalan dan hal-hal yang berkaitan (fi at-tawârikh wa mâ yata’allaqu bihâ). Bab kedua,  tentang penanggalan 7 planet dan hal-hal yang berkaitan (fi taqwim al-kawâkib as-sab’ah wa mâ yaltahiq bi dzalika). Bab ketiga, tentang efek pergerakan posisi planet dalam keadaan diam dan bergeraknya dan hal-hal yang berkaitan (fi dzikr mâ yatarattab ‘alâ muqawwimât al-kawâkib min ahwal dzatiyyatih wa ‘aradhiyyah wa mâ yaltahiq bidzalik).
            Astronomi dan matematika memiliki hubungan erat antara satu dengan yang lain. Satu hal yang tidak dipungkiri bahwa Ibn al-Majdi memiliki keahlian mumpuni dalam dua bidang ini, sebagaimana terlihat dalam karya-karyanya. Melalui penelaahan beberapa karya Ibn al-Majdi yang ada, ditemukan gambaran logis tentang cakupan pengetahuan utuh Ibn al-Majdi dalam astronomi baik teori maupun praktek di masanya. Ibn al-Majdi sangat piawai terhadap persoalan-persoalan astronomi dan matematika.
            Disamping itu, uraian-uraiannya tentang perhitungan astronomis khusunya yang berkaitan dengan penanggalan dan hisab observasi hilal sangat detail dan membutuhkan kecerdasan memamadai untuk memahaminya. Ini ia kupas dalam karyanya yang berjudul “al-Manhal al-‘Azb az-Zalâl fi Hall at-Taqwim wa Ru’yah al-Hilâl”.
            Ibn al-Majdi juga memiliki terobosan teori dalam hal perbedaan ukuran aphelion (awj  asy-syams), ragam penanggalan seperti penanggalan Arab, Persia, Mesir, Syria, ‘Ibri, dan lain-lain. Demikian juga pembahasan ta’dil dan pergerakan planet yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lain dalam orbitnya. Sudah dimaklumi, untuk memahami persolan-persolan ini membutuhkan pengetahuan memadai khususnya cabang ilmu matematika, geometri dan ilmu ukur segi tiga bola (hisâb al-mutsallatsât).
            Ibn al-Majdi telah meninggalkan kepada kita banyak karya. Karya-karya ini tidak jarang pula banyak memberi terobosan baru khsusunya dalam teori-teori astronomi modern. Ibn al-Majdi pernah pula tercatat memberi kritikan (tanqih) terhadap teori-teori yang pernah dikemukakan Ptolemeus, satu suasana imiah yang hidup pada masanya. Secara lebih tegas, David King menyebut Ibn al-Majdi sebagai prototipe (namudzaj) astronomi di masa Mamalik Mesir (abad pertengahan). Demikian sekilas tentang Ibn al-Majdi dan sumbangannya dalam astronomi.[] Penulis: Kepala Observatorium Ilmu Falak UMSU. (Telah terbit di harian Medan Pos, 2015).



Share this post :
 
Copyright © 2015. OIFUMSU - All Rights Reserved