10 Literatur Penting Astronomi

10 Literatur Penting Astronomi


Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, MA


Salah satu faktor berkembangnya kajian astronomi di dunia Islam adalah melimpah dan beragamnya khazanah tulis yang dihasilkan. Meski tak dapat diestimasi secara presisi, khazanah astronomi yang dihasilkan para penulis Arab ini merupakan daya tarik bagi para peneliti dan sejarawan kontemporer baik dari kalangan barat maupun timur. Kajian yang telah dan pernah dilakukan pada umumnya mengungkap gagasan-pemikiran serta latar sosio-religius dan intelektual zamannya.
Dalam sejarah dan hierarki peradaban Islam, astronomi merupkan bagian integral yang tak dapat dipisah dan abaikan. Sejarah mencatat, sangat banyak tokoh-tokoh astronomi yang lahir dan berkontribusi bagi kemajuan dunia sejak kurun abad 3/9 sampai abad 9/15 dengan segenap kreasi, karya dan penemuan. Khazanah tulis–disamping bangunan-bangunan observatorium dan alat-alat astronomi–adalah warisan berharga yang ditinggalkan para astronom muslim yang masih tersisa dan terjaga hingga kini.
Berikut ini adalah 10 literatur penting dalam astronomi mulai dari tingkat uraian ringkas, menengah, sampai penjabaran luas dan komprehensif. Pemilihan 10 literatur ini diakui bersifat ‘subyektif’ mengingat tidak mewakili keseluruhan literatur astronomi warisan peradaban Islam yang mayoritasnya belum ditelaah. Namun yang pasti 10 judul buku ini adalah literatur penting dalam astronomi yang apabila dikaji dan dielaborasi secara akademik sejatinya memberi dan memiliki urgensi historis, filosofis dan astronomis bagi kajian astronomi kontemporer, dan pada saat yang sama memberi akses bagi maju dan berkembangnya peradaban ilmu sebuah bangsa.

1. “Al-Mulakhkhash fī al-Hai’ah al-Basīthah” : Al-Jighmīnī (w. ± 745/1344)
Mahmud bin Muhammad bin Umar al-Jighmīnī (w. ± 745/1344). Seorang astronom, matematikawan dan dokter. “Al-Mulakhkhash fī al-Hai’ah al-Basīthah” adalah buku ringkas memuat pembahasan penting astronomi dan geografi khususnya tentang bola langit (bumi) dan gerak benda-benda langit. Menurut Nillino, buku ini merupakan buku dasar penting dalam astronomi Arab, sementara itu mempelajari buku ini merupakan syarat penting bagi para pelajar astronomi. Komentar terpopuler buku ini adalah “Syarh Mulakhkhash fī al-Hai’ah al-Basīthah” oleh Qādhī Zādah ar-Rūmī (w. 815/1412). Tahun 1893 M buku ini tercatat pernah diterjemahkan kedalam bahasa Jerman.

2. “At-Tadzkirah fī ‘Ilm al-Hai’ah” : Nashīruddīn al-Thūsī (w. 672/1274)
Muhammad bin Muhammad bin al-Hasan al-Thusi (w. 672/1274), direktur “Observatorium Maraga”, Iran. Lebih dikenal dengan “Abu Ja’far” dan “Nashiruddīn  al-Thūsī”. Teks “At-Tadzkirah fī ‘Ilm al-Hai’ah” terhitung sebagai karya terbaik Al-Thūsī, dan karya ini sedikit lebih rinci dibanding “Al-Mulakhkhash” karya Al-Jighmīnī. Buku ini pernah ditahkik oleh Abbas Sulaiman dan diterbitkan oleh “Dār Sa’ad as-Sabbāh” Kuwait pada tahun 1993.

3. “Jawāmi’ ‘Ilm an-Nujūm wa al-Harakāt as-Samāwiyyah” : Al-Farghānī (w. 247/861)
            Ahmad bin Muhammad bin Katsīr al-Farghānī (w. 247/861), dikenal “Al-Farghānī”. Buku “Jawāmi’ ‘Ilm an-Nujūm wa al-Harakāt as-Samāwiyyah” ini berisi 30 bab yang mencakup pembahasan (isi) “Almagest” karya Ptolemeus. Hanya saja karya Al-Farghānī ini ditulis dengan redaksi simpel dan sederhana. Yahya al-Isybīlī (w. 1205 M) dan Gerard of Cremona (w. 1187 M) keduanya tercatat pernah menerjemahkan buku ini kedalam bahasa Latin, demikian lagi Jucolus Golius tahun 1669 M. Abdurrahman Badawi dalam karyanya “Mausū’ah al-Musytasyriqīn” menyatakan transfer dengan cara dan gaya bahasa yang mudah dan jelas ini menjadikan buku ini tersebar luas di Eropa.

4. “Nihāyah al-Idrāk fī Dirāyah al-Aflāk” : Quthb al-Dīn asy-Syīrāzy (w. 710/1310)
            Quthb al-Dīn Mahmūd bin Mas’ūd bin Muslih asy-Syīrāzy, dikenal dengan “Quthb al-Dīn asy-Syīrāzy”. Astronom, dokter dan filsuf, murid Nashīruddīn al-Thūsī. Buku ini meliputi kajian multi bahasan: astronomi, bumi, laut, aneka musim, fenomena angin (cuaca), mekanika, dan optika. Buku ini terdiri dari 4 pokok bahasan besar: mukadimah, komposisi alam, komposisi bumi, ukuran benda-benda langit. Buku ini pada mulanya dipersembahkan kepada Syamsuddīn Muhammad al-Juwainī (salah satu menteri di Kerajaan Mongol). Disini Quthb al-Dīn asy-Syīrazy banyak mengutip Al-Bīrūnī (w. 440/1048), Al-Thūsī (w. 672/1274), Ibn al-Haitsam (w. 430/1038), dan Al-Kharqi.

5. “Al-Qānūn al-Mas’ūdī fī an-Nujūm wa al-Hai’ah” : Al-Bīrūnī (w. 440/1048)
Abu ar-Raihān Muhammad bin Ahmad al-Bīrūnī (w. 440/1048), dikenal dengan “Al-Bīrūnī”. “Al-Qānūn al-Mas’ūdī fī an-Nujūm wa al-Hai’ah” terhitung sebagai buku ensiklopedik astronomi pertama dalam peradaban Islam sekaligus buku terlengkap yang membahas semua cabang astronomi pada zamannya. Carlo Nillino menyatakan sebagai buku istimewa yang tidak ada tandingannya. “Al-Qānūn al-Mas’ūdi” terdiri dari 11 makalah dan 143 bab. Buku ini pertama kali dicetak dan terbit di India tahun 1954-1956 oleh percetakan “Dāi’rah al-Ma’arif al-‘Utsmaniyah”.

6. “Jāmi’ al-Mabādi’ wa al-Ghāyāt fī ‘Ilm al-Mīqāt” : Al-Hasan bin Ali al-Marrākusyī (w. ± 680/1281)
Al-Marrākusyī (w. ± 680/1281) adalah seorang muwaqqit, geografer, dan matematikawan asal Maroko. “Jāmi’ al-Mabādi’ wa al-Ghāyāt fī ‘Ilm al-Mīqāt” adalah karya terbesarnya. Menurut para peneliti, buku ini adalah karya terbaik tentang “mikat”. Hajji Khalifah (w. 1068/1657) menuturkan buku ini sebagai yang terbesar yang ditulis pada bidang ini. Terdiri dari 2 jilid dan 4 pokok bahasan: (1) aritmetika, (2) konstruksi alat-alat astronomi, (3) aplikasi penggunan alat-alat astronomi, (4) beberapa pembahasan. Jilid pertama buku ini pernah diterjemahkan kedalam bahasa Prancis oleh J.J. Sedillot tahun 1834-1835 M. Tahun 2012 buku ini telah diteliti secara akademik dalam bentuk disertasi di “Institut Manuskrip Arab” Kairo.

7. “Az-Zaij ash-Shābī ” : Jābir al-Battānī (w. 317/929)
            Abu Abdillah Muhammad bin Jabir bin Sinān al-Battānī (w. 317/929). Matematikawan dan astronom abad 4/10, digelari “Ptolemeus Arab”. “Az-Zaij as-Shābī’ ” adalah teks astronomi dengan kategori tabel-tabel (zij), terdiri 57 bab berisi uraian dan table-tabel astronomis. Dalam perkembangannya buku ini mendapat banyak perhatian dari ulama yang datang sesudah Al-Battānī, seperti Al-Buzjānī, As-Shaghānī, As-Shūfī, dan Al-Bīrūnī. Bahkan buku ini memberi pengaruh besar pada permulaan kebangkitan Eropa. Buku ini pernah diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa Latin dan Eropa.

8. “Az-Zaij as-Sulthāny” : Ulugh Bek (w. 853/1449)
            Muhammad bin Syah Rukh (w. 853/1449), lebih dikenal dengan “Ulugh Bek”. Menurut para sejarawan dan peneliti, “Az-Zaij as-Sulthāny” terhitung buku dengan kategori tabel (zij) terbaik dan terinci. Tqān menuturkan bahwa buku ini populer tidak hanya dikalangan Timur namun juga dikalangan Barat (Eropa) dalam beberapa abad. Orientalis Inggris John Greaves (w. 1652 M) tercatat pernah meneliti dan menerbitkan buku ini pada tahun 1650 di London. Tahun 1847 M buku ini ditransfer (terjemah) kedalam bahasa Prancis.

9. “Az-Zaij al-Hākīmī al-Kabir” : Ibn Yūnus (w. 399/1008)
            Abu al-Hasan Ali bin Abdurrahman bin Ahmad bin Yūnus al-Mashrī (w. 399/1008), dikenal dengan “Ibn Yūnus”. Astronom, matematikawan, dan sastrawan asal Mesir.  “Az-Zayj al-Hākīmī al-Kabīr” adalah karya dalam kategori tabel-tabel. Ibn Yūnus mulai menyusun tabel-tabelnya ini sejak tahun 380/990 di bukit Mukattam (Kairo) di sebuah observatorium yang dibangun oleh raja Fatimiah Al-Hakim bi Amrillah. Tabel ini berisi 4 jilid (81 fasal). Tabel ini berisi catatan astronomis 277 kota. Tabel ini pernah diterjemahkan kedalam bahasa Prancis oleh Cousin tahun 1804 M. Di era Abbasiah buku ini menjadi rujukan penting khususnya dalam pengukuran (standardisasi) keliling bumi.

10. “Tuhfah at-Thullāb fī al-‘Amal bi al-Usthurlāb” : Ibn ash-Shaffār (w. ± 426/1035)
            Abu al-Qāsim Ahmad Abdullāh bin Umar bin as-Shaffār al-Andalūsī (w. ± 426/1035), dikenal dengan “Ibn as-Shaffār”. Matematikawan, enginering, astronom, dan dokter berasal dari kota Kordova, Spanyol. Buku ini menguraikan tentang astrolabe. Disini Ibn Shaffār memformula ragam model-model astrolabe dan tata cara penggunaannya. Platon de Tivoli tahun 1134 M menerjemahkan buku ini kedalam bahasa Latin. Sementara pada abad 13 M, sepertiga akhir buku ini diterjemahkan kedalam bahasa Ibrani. Penerjemahan ini tidak lain menunjukkan posisi penting dan urgensi buku ini.[] Penulis: Kepala Observatorium Ilmu Falak UMSU


Share this post :
 
Copyright © 2015. OIFUMSU - All Rights Reserved